Islam Itu Kaffah, Tapi Apakah Orang Islam Bisa Kaffah

Pagi ini aku merasa diberondong berbagai pertanyaan ketika membaca artikel Ulil Absar Abdala yang membahas tentang ketidakteraturan orang-orang di negara Muslim dengan negara-negara sekuler. Dalam artikel yang diposting di Facebook itu dikatakan kalau peraturan-peraturan di negeri sekuler jauh lebih humanis, dan juga ditaati oleh orang-orang disana sehingga masyarakatnya bisa teratur.

Sekilas sebagai muslim saya pengen marah. Tapi kemudian kesadaran saya kembali mengendalikan otak dan perasaan saya. Kepada siapakah saya harus marah ketika membaca tulisan yang menghabisi orang Islam itu..? Bahkan dengan perbandingan orang Sekuler itu…?

Emm….. akhirnya saya tahu. Marah memang tidak diperlukan dalam menanggapi tulisan itu. Karena memang tulisan itu mengungkap fakta-fakta yang saya sendiri tidak bisa membantahnya. Sekilas kemudian saya teringat kata-kata Muhammad Abduh ketika membandingkan antara Paris dan Mesir, katanya di Paris ada Orang Islam, namun Tidak ada Islam sedangkan di Mesir ada Islam tapi tidak ada orang Islam….

Emm… kesadaran Abduh seabad yang lalu itu ternyata terus mengusik generasi Islam dari waktu ke waktu. Mereka tanpa harus kehilangan keimanan mereka akan Islam mencoba mengkritik umatnya bahwa orang-orang Islam itu masih jauh dari Islam ketika melihat perilakunya setiap hari. Kedisiplinan, kebaikan, keberadaban dll.

Mungkin begini analisanya. Dalam ajaran Islam, kita harus tuntas dalam menjalankan Islam. Aqidah yang berarti meyakini Allah lah yang patut disembah itu harus diturunkan dalam level praktis dalam bentuk membebaskan manusia dari sesembahan-sesembahan lain. Kalau itu adalah berbentuk kapitalisme, ya orang Islam harus membebaskannya. Kalau itu berbentuk feodalisme, orang Islam juga harus membebaskannya. Kalau itu berbentuk otoritarianisme, orang Islam juga harus membebaskannya. Sehingga atas nama Aqidah, kita harus berperang kepada para kapitalis, feodalis atau otoritarianis.

Namun berperang memerangi orang lain itu tidaklah cukup. Islam selain mengenal wilayah empiris, juga mengenal wilayah logika. Nah.. dalam wilayah logika inilah bentuk peperanagan fisik bisa dicari alternatifnya dengan lebih cerdas. Namun bentuk kesadaran Aqidah untuk membebaskan logika yang lebih berat adalah ketika menuhankan teori –teori manusia dan menggantikan Al Qur’an serta nurani. Al Qur’an dan Nurani pasti sejalan, hanya proses klarifikasinya yang berbeda beda. Kalau memakai cara Al Ghozali mengibaratkan cermin, kalau Nurani itu tertutup berbagai macam noda yang ada karena perbuatan dosa.. maka nurani itu bagaikan cermin dan akan tertutup dan tersekat dari cahaya ilahi, termasuk yang paling verbalpun yaitu AL Qur’an. Dari sinilah kemudian walaupun setiap hari membaca Al Qur’an, kalau diri tidak terbebas dari penyakit hati, tidak ada pantulan sedikitpun dari ayat-ayat itu. Ketika nurani tidak berfungsi, terus bagaimana dengan akal ? Akal tidak akan bekerja sebagai agen klarifikasi antara nurani dan wahyu.

Mungkin saja, orang-orang di negara maju, nuraninya sudah terbebas dari penyakit hati. Mereka mungkin tidak mengenal Islam. Namun karena mereka tidak banyak melakukan dosa social dengan menyakiti orang lain, selalu membela orang yang lemah, selalu memikirkan kaum miskin, dan berbagai hal lainnya.. sah-sah saja kan kalau nurani mereka langsung bisa memantulkan cahaya tuhan dan kemudian terus menjadi orang baik? Walaupun dalam definisi normal mereka orang atheis atau agnostic.

Akhirnya, berbicara nurani, Islam mengenal apa yang disebut Akhlaq dari pencerapan irfaniah dimana hati dan wahyu selalu bertautan. Dan dalam konteks ini peperangan itu bukan dengan menghadapi musuh dari luar, bukan musuh yang pasukan multinasional, namun musuh yang bernama hawa nafsu.

Terbayang, bila hawa nafsu setiap muslim sudah bisa terkalahkan, maka setiap muslim pasti akan menjadi contoh terbaik profil manusia di muka bumi ini. Kalau saat ini Ulil melihat orang-orang Amerika jauh lebih baik , atau dulu Abduh melihat orang Perancis jauh lebih baik, kalau orang Islam bisa mengalahkan hawa nafsunya tentulah orang Islam akan jauh lebih baik.

Orang Islam kalau bisa mengalahkan hawa nafsunya tidak akan merampas hak orang lain, tidak akan berbuat jahat kepada orang lain, tidak akan berbohong, tidak akan menghina, menggunjing, memaki sekaligus akan menjadi pembela ketika kebaikan kebaikan itu terancam, walaupun yang terancam itu orang atheis dan yang mengancam adalah orang Islam.

Mungkin kata kuntowijoyo benar, orang Islam khususnya di Indonesia masih berada dalam jaman mitos dan sebagian berada dalam jaman ideologis. Dimana mereka mengerti dan yakin kalau Islam adalah yang akan membawa mereka kepada kebaikan, namun mereka gagal menjadikan Islam menjadi ilmu yang bisa diterapkan dan berlaku obyektif dan universal. Teriakan Allahu Akbar tidak cukup menjadikan dia orang baik, perlu mencari ilmu yang bisa membuat dia mengerti posisi jaman dan bermanfaat bagi orang lain.

Mungkin doktrin bahwa Dunia adalah Penjara bagi orang Mukmin juga perlu direvisi. Mungkin konteksnya wakyu doktrin itu diproduksi banyak orang Islam yang berfoya-foya, sehingga agar mereka mengendalikan diri mereka harus diberiahu seperti itu. Sedangkan sekarang doktrin itu banyak berlaku untuk pembenaran bahwa orang Islam itu boleh melarat, boleh bodoh dan boleh tertindas. Sehingga tidak menjadikan spirit untuk maju, bangun dan kemudian menjadi ‘sebaik-baiknya mahluk’.

Akhirnya…, menjadi orang Islam itu tidak cukup, karena itu harus menjadi mukmin. Menjadi mukmin jua tiak cukup karena harus menjadi muhsin. Dan sayangnya banyak yang berhenti menjadi orang Islam saja dan berhenti disitu. Menjadi mukmin dan muhsin memang berat, dan yang paling berat bukan berperang mengahdapi musuh atau mempertaruhkan nyawa, karena nyawa itu akan dicabut Allah juga kalau saatnya nanti datang. Yang paling berat adalah bagaimana berilmu dan bagaimana mewujudkannya dalam kenyataan sehingga bisa menjadi rahmatan lil alamin.


About this entry