Budaya Tinggi, Manusia Besar dan Islam Berkemajuan

Memandang Sebuah Peradaban Islam

Usia Muhammadiyah menjelang Satu Abad. Usia yang melampaui usia rata-rata homo sapiens produktif di abad moden ini. Setelah keberhasilan Muhammadiyah melampaui lorong waktu (dan juga ruang) dari generasi ke generasi, cara memandang Muhammadiyah yang tereduksi hanya “sekedar” sebagai organisasi massa adalah sebuah pandangan myopic (rabun dekat) yang perlu segera disembuhkan. Haruslah generasi sekarang memandang Muhammadiyah sebagai sebuah peradaban dengan rangkaian keberhasilan demi keberhasilan dan siap terus untuk maju, bukan kungkungan sejarah kegagalan yang selama ini selalu dikaitkan dengan dunia politik, dimana sejatinya politik hanya merupakan wujud peradaban kecil. Harusnya kita pandang Muhammadiyah sebagai sebuah peradaban besar dengan manusia-manusia besar. Peradaban yang menyejarah dengan Budaya Tinggi. Peradaban Islam yang Berkemajuan.

Namun sebagai sebuah peradaban, tantangan terjadi pengeroposan lebih banyak dari dalam. Dan itu terjadi ketika para aktifis Muhammadiyah kehilangan jati diri dan sejarah dirinya, yang mengerdilkan diri dengan banyak menghabiskan energi ikut berebut hal-hal yang bersifat kebendaan dan kekuasaan, bukan malah bekerja keras, mentransformasikan diri terus menerus sebagai agen pembebas dalam arti seluas mungkin dan manusia multidimensi dan multisolusi, mengembangkan ilmu dengan basis epistimologi orisinil sebagai sebuah alternatif epistimologi (manhaj) yang mampu membebaskan manusia dari tantangan negatif peradaban lain yang saat ini bekembang, atau minimal sebagai bekal mengarungi kehidupan yang melampau batas-batas kematian biologis manusia. Karena sebagai sebuah peradaban, Muhammadiyah adalah sebuah teori tersendiri.

Zaim Ukhrowi, direktur utama Balai Pustaka, Rabu (27/08/2008) di UMY, mengingatkan kalau memandang Muhammadiyah jangan terjebak sekedar sebagai ormas belaka, harusnya Muhammadiyah dipandang sebagai sebuah spirit peradaban. Karena menurut Zaim, yang hebat dari KHA Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah adalah kemampuannya mengkomunikasikan Muhammadiyah sebagai spirit untuk membangun sebuah peradaban, bukan sekedar Ormas. Bahkan menurutnya, kalau dipandang sebagai Ormas, maka yang terjadi kemudian hanya pada hitung-hitungan pragmatis tentang jumlah pengikut, jumlah amal usaha bukan seberapa besar Muhammadiyah bisa berpengaruh positif pada sekelilingnya, memberikan pelayanan sebesar-besarnya untuk kemanusiaan. Cara memandang Muhammadiyah yang sekedar sebagai Ormas akan berpotensi menjadi pragmatis. “Ini rawan politisasi “ terangnya waktu itu.

Sementara itu, Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah, dalam sebuah orasi budaya yang diselenggarakan IMPULS di Kanisius, Selasa (29/07/2008) mengingatkan bahwa Muhammadiyah (bersama NU) harusnya menjadi perekat persatuan bangsa ini, bukan malah ikut-ikutan menjadi pemain dalam politik kekuasaan. “Karena Muhammadiyah dan NU seharusnya menjadi semacam Mahkamah Konstitusi Moralitas di negeri ini” terang Komaruddin.

Dari ungkapan Zaim yang mengaku bukan orang yang terlahir dari komunitas Muhammadiyah itu, bisa diraba ada gejala ke khawatiran dari orang-orang semacam Zaim bahwa Aktifis Muhammadiyah akhir akhir ini mulai menderita ‘miopic sindrom’ tentang dirinya, dimana hanya memandang dirinya sekedar sebagai ‘tubuh’ semata, bukan sebagai kesatuan utuh antara tubuh, akal dan jiwa. Sehingga ukuran keberhasilan gerakan terjebak sekedar pada keberhasilan materiil semata, bahkan kemudian bisa terjebak menjadi materialisme.

Sedangkan membaca ungkapan Komaruddin Hidayat, yang juga bukan aktifis Muhammadiyah ini, kita melihat bahwa ternyata ada harapan besar bagi Muhammadiyah yang sedemikian tinggi, dimana ada harapan bahwa kader Muhammadiyah tidak sekedar “hanya” menjadi Presiden, namun lebih dari itu, menjadi penjaga moral bangsa ini. “Namun sayang, sekarang sudah banyak yang ikut dalam permainan politik. Ikut berebut, ikut membuat bargaining politik praktis “ begitu Komaruddin menyatakan.

Selintas, dua kekhawatiran orang dari luar Muhammadiyah ini terdengar klasik. Sudah lama kajian-kajian tentang Muhammadiyah yang kemudian memberikan prasaran bahwa peran Muhammadiyah selama ini sudah pas, jangan bermain di ranah politik, namun bermain di wilayah kultural saja, karena disitulah core businnes Muhammadiyah. Sejalan juga dengan pernyataan Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam Darul Arqom Tingkat Nasional (1/09/2008) dimana seharusnya kader Muhammadiyah adalah kader dengan budaya tinggi, budaya manusia terpandang, bukan budaya rendahan yang kemudian berimplikasi dalam bentuk penyikapannya pada masalah-masalah kebendaan dan kekuasaan.

Haedar memberikan contoh ini pada kasus perilaku beberapa kader Muhammadiyah dalam penyikapannya dalam wilayah Politik, dimana menurut Haedar, perilaku politik yang mengarah pada bentuk politik praktis dengan budaya dan etika politik rendahan. Repotnya kecenderungan ini sering dibenarkan dengan berkembangnya mitos-mitos bahwa kalau tidak menjadi penguasa politik maka Muhammadiyah tidak akan mendapatkan jatah kue kekuasaan. “Selama ini Muhammadiyah terbukti bisa mandiri tanpa ketergantungan pada kekuasaan” terang Haedar.

Sementara itu, diluar sistem gerakan resmi, sosok seperti Andrea Hirata berhasil melakukan gerakan, yang sengaja atau tidak, harus diakui telah membawa masuk Muhammadiyah di ruang publik dengan Laskar Pelangi-nya melalui pintu sastra. Andrea Hirata dengan gaya dan caranya sendiri membawa simbol Muhammadiyah ke ruang publik sebagai sebuah spirit keunggulan, dan berhasil dari sekedar Ormas yang kering. Dia berhasil membawa Muhammadiyah masuk ke dalam kesadaran publik dengan cantik walaupun juga satir. Andrea bisa memainkan simbol Muhammadiyah bahkan memasuki wilayah permainan Kapital yang sebelumnya belum pernah berhasil dengan Novel serta Filmnya. Dengan diterjemahkannya Novel dan Film ini dalam berbagai bahasa dunia, sengaja atau tidak, Laskar Pelangi telah menjadi duta Muhammadiyah memasuki kesadaran universal warga dunia abad ini karena daya tusukkan yang tajam. Sehingga wacana-wacana formal Muhammadiyah seharusnya akan dengan mudah masuk ke dalam kesadaran warga dunia setelah Laskar Pelangi mendahuluinya dengan mengenalkan simbol Muhammadiyah dengan cantik.

Sayang, kadang ada letupan-letupan kecil yang kemudian mewakili mental budaya rendahan dari kader Muhammadiyah menanggapi fenomena Andrea Hirata. Letupan itu terjadi dalam bentuk seperti kritik dimana Andrea telah mengkomersilkan simbol-simbol Muhammadiyah, atau ada yang kemudian juga menderita ‘miopic sindrom’ dengan ungkapan “Harusnya Muhammadiyah mendapat bagian uang dari keuntungan Novel dan Film ini” . Pemikiran inilah yang terjadi pada mental-mental inlander, mental orang miskin yang membuat kecantikan ekspresi kultural Muhammadiyah itu tercoreng budaya rendahan yang memang “bukan maqom” -nya untuk bisa memahami arti modal sosial, modal intelektual atau modal moral sebagai elemen untuk membangun budaya tinggi khas Muhammadiyah. Ini adalah bagian dari kecenderungan curiga mencurigai dan berebut kekuasaan atau seringnya menghambat prestasi kawan seiring yang menjadi budaya manusia-manusia tertindas dan tidak akan siap hingga kapanpun menjadi manusia besar.

Sepertinya terlalu menyederhanakan masalah bila cinta-cita Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat Islam sebenar-benarnya dalam negeri Baldatun Thoyibatun Warobbun Ghofur dianggap hanya bisa diraih dengan menguasai kekuasaan politik dan kepemilikan benda-benda duniawi semata namun mengorbankan harta yang paling berharga dimiliki Muhammadiyah untuk bertahan hingga menjelang satu abad ini, yaitu Budaya Tinggi, Karya Besar, mental Manusia-Manusia Besar. Atau dalam istilah KH AR Fahruddin “Muhammadiyah yang Gagah, yang Nyah-Nyoh “ (Mudah memberi siapapun)

Hal ini juga sejalan dengan pernyataan Buya Syafii Maarif dalam Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah, ahad (7/09/2008), beliau menilai bahwa Muhammadiyah masih sangat jauh dari tujuan ‘mewujudkan masyarakat Islam sebenar-benarnya’ bila Muhammadiyah tidak juga menjadi gerakan ilmu selain gerakan Islami, gerakan dakwah dan gerakan tajdid. Bisa dibayangkan, bagaimana bentuk gerakan ilmu itu akan terjadi bila mental manusia merdeka yang berbudaya tinggi tidak menjadi mental kader Muhammadiyah. Apalagi ketika energi banyak dihabiskan untuk bermain politik rendahan, yang daya rusaknya setingkat dengan cara pandang curiga terhadap pemikiran baru anak-anak muda yang sering tergesa-gesa divonis liberal atau sekuler.

Simbol Muhammadiyah

Ketika sebuah simbol dimainkan di ruang publik disitulah eksistensi Muhammadiyah sebagai sebuah peradaban, walaupun memang sering menghadapi dua presepsi yang berbeda, seperti dua sisi mata uang, yaitu tanggapan positif dan negatif. Ini sudah sunnatullah. Ketika Kyai Fahruddin yang menjadi simbol Muhammadiyah bermain dengan gerakan ‘ala kiri’ yang kemudian dekat dengan gerakan buruh, mungkin banyak yang kemudian terjebak dalam analisis sempit bahwa Kyai Fahruddin membawa simbol Muhammadiyah menjadi Komunis. Ketika Muhammadiyah menerima sumbangan dari pemerintah Belanda untuk sekolah Muhammadiyah, bisa timbul presepsi bahwa Muhammadiyah sudah menjadi antek Belanda. Ketika Muhammadiyah mengadopsi sistem kepanduan menjadi Hisbul Wathan, bisa saja timbul presepsi Muhammadiyah telah mengalami westernisasi.

Hal ini juga terjadi ketika Mas Mansyur bergabung dengan PUTERA bersama Sukarno, Hatta dan Ki Hadjah Dewantara. Bisa timbul presepsi bahwa Muhammadiyah adalah komprador Jepang. Demikian juga ketika banyak tokoh Muhammadiyah adalah tokoh penggerak Masyumi, masa Kyai Badawi menganugerahkan Bintang Tauhid kepada Sukarno, ketika KH AR Fahruddin ‘bermain’ dengan orde baru dan Suhartonya, atau ketika Amien Rais memimpin Gerakan Reformasi. Namun sejarah telah membuktikan bahwa Muhammadiyah bisa melampaui semua itu dengan cantik bukan hanya karena ketrampilan berpolitik di level rendah. Namun lebih karena integritas yang menjadi modal utama Muhammadiyah. Integritas yang terbangun dari budaya besar, dari kepercayaan diri tinggi dari kecerdasan yang juga merupakan elemen pembentuk Budaya Tinggi, mental Manusia Besar.

Dengan memandang Muhammadiyah adalah sebuah entitas spirit, disamping content dan struktur, maka Muhammadiyah seakan melampaui definisi sebagai mahluk Allah yang bisa mati dalam hitung-hitungan biologis. Karena matinya Muhammadiyah adalah matinya sebuah peradaban besar. Dan sejarah juga membuktikan matinya sebuah peradaban besar banyak terjadi karena pengeroposan dari dalam yang dimulai dengan lahirnya generasi-generasi penerus dengan budaya rendahan, mental ciut dan menderita myopic sindrom yang berkepanjangan.

Entitas spirit ini sejalan dengan ungkapan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin dalam pembukaan Darul Arqam Tingkat Nasional (31/08/2008) bahwa kandungan Ayat Ali Imron 104 bukan saja perintah dakwah amar ma’ruf nahi munkar, namun didahului dengan konsep Al Khoir dimana bisa diartikan bahwa spirit Muhammadiyah adalah spirit keunggulan, spirit peradaban, spirit Islam Berkemajuan. Spirit inilah yang tergambar dalam epic SD Muhammadiyah Gantong dalam Laskar Pelangi. Spirit inilah yang menyatukan dan menggerakkan kader Muhammadiyah dari tingkat tertinggi di Pimpinan Pusat hingga ribuan bahkan jutaan kader Muhammadiyah di daerah yang bekerja keras dan ikhlas seperti Bu Muslimah dan Pak Harfan di Laskar Pelangi sebagai manusia-manusia besar yang meyakini Islam itu besar karena spiritnya untuk membangun peradaban.

“Jangan sentimen, jangan sakit hati kalau menerima celaan dan kritikan. Jangan sombong, jangan berbesar hati kalau menerima pujian. Jangan ujub kikir, riya. Dengan ikhlas murni hatinya, kalau sedang berkorban harta benda, pikiran dan tenaga. Harus ber-sungguh-sungguh hati dan tetap tegak pendirianmu”

“Mula-mula agama Islam itu cemerlang, kemudian makin suram. Tetapi sesungguhnya yang suram itu adalah manusianya, bukanlah agamanya. Agama adalah bukan barang yang kasar, yang harus dimasukkan kedalam telinga, akan tetapi agama Islam adalah agama fitrah. Artinya, ajaran yang mencocoki kesucian manusia. Sesungguhnya agama bukanlah amal lahir yang dapat dilihat, amal lahirnya itu hanyalah bekas dan daya dari ruh agama”

Pesan KH Ahmad Dahlan (1868-1923 M) dalam Kyai Dahlan Amal dan Perjuangannya oleh Junus Salam

JL KHA Dahlan, 103 Yogyakarta

8 September 2008


About this entry