Profesional yang Aktifis…?

Mungkin banyak orang ketika bertemu kehidupan aktifis kemudian secara tergesa gesa mengikrarkan dirinya untuk menjadi aktifis seumur hidup. Banyak yang kemudian secara emosional berikrar untuk menghabiskan sisa umurnya menjadi aktifis. Lengkap dengan sumpah-sumpah khas aktifis, membela rakyat, bersama rakyat, menyuarakan suara rakyat, bla bla.

Namun, banyak yang kemudian kebingungan ketika kebutuhan riil, keluarga, rumah, uang berada di hadapannya. Ketika menjadi aktifis, kadang tidak terbayangkan bagaimana keadaan ini berada di depan mata. Bagaimana pertaruhan antara sumpah dan kenyataan yang sering terus-terusan berbenturan. Akhirnya.. para aktifis itu berada di persimpangan jalan yang tidak mudah. Seakan.. sumpah dan kebutuhan hidup menjadi oposisi biner yang sulit dikompromikan. Seakan buku-buku yang selama ini dua baca, diskusi-diskusi yang selama ini dilakukan tidak bisa menolong untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Namun,… kemudian aku berfikir.. mengapa sedramatis itu ? apa benar dunia semengerikan itu..? Bukankah Tuhan hanya mempertentangan antara kebatilan dan kebenaran…? Tuhan tidak pernah mempertentangkan hal yang sama-sama baik bukan…?

Disinilah Dawam Raharjo pernah mengatakan bahwa idealisme aktifis bukan berarti harus berhentu ketika dia bermetamorfosis menjadi profesional. Bukan sekedar menjadi dosen, menjadi penggerak LSM, atau menjadi politisi idealisme itu akan tetap hidup. Namun menjadi pedagang, pegawal swasta, pegawai negeriĀ  dan juga menjadi pengusaha tetap memungkinkan idealisme itu hidup. Bahkan menurutku harus tetap hidup. Tentu saja dalam kapasitas mereka masing-masing.

Akhirnya.. bagi kawan-kawan yang menagkhiri dunia aktifisnya dan bermigrasi menjadi profesional.. selamat menikmati. Nikmatilah.. dan jangan menganggap api idealisme itu mati. Bangun dan nikmati jaring-jaring ideologis itu, sehingga idealisme tetap terjaga.


About this entry