dhdccjho fyufjv bvkjm ,m
Islam Itu Kaffah, Tapi Apakah Orang Islam Bisa Kaffah
Pagi ini aku merasa diberondong berbagai pertanyaan ketika membaca artikel Ulil Absar Abdala yang membahas tentang ketidakteraturan orang-orang di negara Muslim dengan negara-negara sekuler. Dalam artikel yang diposting di Facebook itu dikatakan kalau peraturan-peraturan di negeri sekuler jauh lebih humanis, dan juga ditaati oleh orang-orang disana sehingga masyarakatnya bisa teratur.
Sekilas sebagai muslim saya pengen marah. Tapi kemudian kesadaran saya kembali mengendalikan otak dan perasaan saya. Kepada siapakah saya harus marah ketika membaca tulisan yang menghabisi orang Islam itu..? Bahkan dengan perbandingan orang Sekuler itu…?
Emm….. akhirnya saya tahu. Marah memang tidak diperlukan dalam menanggapi tulisan itu. Karena memang tulisan itu mengungkap fakta-fakta yang saya sendiri tidak bisa membantahnya. Sekilas kemudian saya teringat kata-kata Muhammad Abduh ketika membandingkan antara Paris dan Mesir, katanya di Paris ada Orang Islam, namun Tidak ada Islam sedangkan di Mesir ada Islam tapi tidak ada orang Islam….
Emm… kesadaran Abduh seabad yang lalu itu ternyata terus mengusik generasi Islam dari waktu ke waktu. Mereka tanpa harus kehilangan keimanan mereka akan Islam mencoba mengkritik umatnya bahwa orang-orang Islam itu masih jauh dari Islam ketika melihat perilakunya setiap hari. Kedisiplinan, kebaikan, keberadaban dll.
Mungkin begini analisanya. Dalam ajaran Islam, kita harus tuntas dalam menjalankan Islam. Aqidah yang berarti meyakini Allah lah yang patut disembah itu harus diturunkan dalam level praktis dalam bentuk membebaskan manusia dari sesembahan-sesembahan lain. Kalau itu adalah berbentuk kapitalisme, ya orang Islam harus membebaskannya. Kalau itu berbentuk feodalisme, orang Islam juga harus membebaskannya. Kalau itu berbentuk otoritarianisme, orang Islam juga harus membebaskannya. Sehingga atas nama Aqidah, kita harus berperang kepada para kapitalis, feodalis atau otoritarianis.
Namun berperang memerangi orang lain itu tidaklah cukup. Islam selain mengenal wilayah empiris, juga mengenal wilayah logika. Nah.. dalam wilayah logika inilah bentuk peperanagan fisik bisa dicari alternatifnya dengan lebih cerdas. Namun bentuk kesadaran Aqidah untuk membebaskan logika yang lebih berat adalah ketika menuhankan teori –teori manusia dan menggantikan Al Qur’an serta nurani. Al Qur’an dan Nurani pasti sejalan, hanya proses klarifikasinya yang berbeda beda. Kalau memakai cara Al Ghozali mengibaratkan cermin, kalau Nurani itu tertutup berbagai macam noda yang ada karena perbuatan dosa.. maka nurani itu bagaikan cermin dan akan tertutup dan tersekat dari cahaya ilahi, termasuk yang paling verbalpun yaitu AL Qur’an. Dari sinilah kemudian walaupun setiap hari membaca Al Qur’an, kalau diri tidak terbebas dari penyakit hati, tidak ada pantulan sedikitpun dari ayat-ayat itu. Ketika nurani tidak berfungsi, terus bagaimana dengan akal ? Akal tidak akan bekerja sebagai agen klarifikasi antara nurani dan wahyu.
Mungkin saja, orang-orang di negara maju, nuraninya sudah terbebas dari penyakit hati. Mereka mungkin tidak mengenal Islam. Namun karena mereka tidak banyak melakukan dosa social dengan menyakiti orang lain, selalu membela orang yang lemah, selalu memikirkan kaum miskin, dan berbagai hal lainnya.. sah-sah saja kan kalau nurani mereka langsung bisa memantulkan cahaya tuhan dan kemudian terus menjadi orang baik? Walaupun dalam definisi normal mereka orang atheis atau agnostic.
Akhirnya, berbicara nurani, Islam mengenal apa yang disebut Akhlaq dari pencerapan irfaniah dimana hati dan wahyu selalu bertautan. Dan dalam konteks ini peperangan itu bukan dengan menghadapi musuh dari luar, bukan musuh yang pasukan multinasional, namun musuh yang bernama hawa nafsu.
Terbayang, bila hawa nafsu setiap muslim sudah bisa terkalahkan, maka setiap muslim pasti akan menjadi contoh terbaik profil manusia di muka bumi ini. Kalau saat ini Ulil melihat orang-orang Amerika jauh lebih baik , atau dulu Abduh melihat orang Perancis jauh lebih baik, kalau orang Islam bisa mengalahkan hawa nafsunya tentulah orang Islam akan jauh lebih baik.
Orang Islam kalau bisa mengalahkan hawa nafsunya tidak akan merampas hak orang lain, tidak akan berbuat jahat kepada orang lain, tidak akan berbohong, tidak akan menghina, menggunjing, memaki sekaligus akan menjadi pembela ketika kebaikan kebaikan itu terancam, walaupun yang terancam itu orang atheis dan yang mengancam adalah orang Islam.
Mungkin kata kuntowijoyo benar, orang Islam khususnya di Indonesia masih berada dalam jaman mitos dan sebagian berada dalam jaman ideologis. Dimana mereka mengerti dan yakin kalau Islam adalah yang akan membawa mereka kepada kebaikan, namun mereka gagal menjadikan Islam menjadi ilmu yang bisa diterapkan dan berlaku obyektif dan universal. Teriakan Allahu Akbar tidak cukup menjadikan dia orang baik, perlu mencari ilmu yang bisa membuat dia mengerti posisi jaman dan bermanfaat bagi orang lain.
Mungkin doktrin bahwa Dunia adalah Penjara bagi orang Mukmin juga perlu direvisi. Mungkin konteksnya wakyu doktrin itu diproduksi banyak orang Islam yang berfoya-foya, sehingga agar mereka mengendalikan diri mereka harus diberiahu seperti itu. Sedangkan sekarang doktrin itu banyak berlaku untuk pembenaran bahwa orang Islam itu boleh melarat, boleh bodoh dan boleh tertindas. Sehingga tidak menjadikan spirit untuk maju, bangun dan kemudian menjadi ‘sebaik-baiknya mahluk’.
Akhirnya…, menjadi orang Islam itu tidak cukup, karena itu harus menjadi mukmin. Menjadi mukmin jua tiak cukup karena harus menjadi muhsin. Dan sayangnya banyak yang berhenti menjadi orang Islam saja dan berhenti disitu. Menjadi mukmin dan muhsin memang berat, dan yang paling berat bukan berperang mengahdapi musuh atau mempertaruhkan nyawa, karena nyawa itu akan dicabut Allah juga kalau saatnya nanti datang. Yang paling berat adalah bagaimana berilmu dan bagaimana mewujudkannya dalam kenyataan sehingga bisa menjadi rahmatan lil alamin.
Posted by arifnur on September 9, 2008
http://aripnur.wordpress.com/2008/09/09/islam-itu-kaffah-tapi-apakah-orang-islam-bisa-kaffah/
Budaya Tinggi, Manusia Besar dan Islam Berkemajuan
Memandang Sebuah Peradaban Islam
Usia Muhammadiyah menjelang Satu Abad. Usia yang melampaui usia rata-rata homo sapiens produktif di abad moden ini. Setelah keberhasilan Muhammadiyah melampaui lorong waktu (dan juga ruang) dari generasi ke generasi, cara memandang Muhammadiyah yang tereduksi hanya “sekedar” sebagai organisasi massa adalah sebuah pandangan myopic (rabun dekat) yang perlu segera disembuhkan. Haruslah generasi sekarang memandang Muhammadiyah sebagai sebuah peradaban dengan rangkaian keberhasilan demi keberhasilan dan siap terus untuk maju, bukan kungkungan sejarah kegagalan yang selama ini selalu dikaitkan dengan dunia politik, dimana sejatinya politik hanya merupakan wujud peradaban kecil. Harusnya kita pandang Muhammadiyah sebagai sebuah peradaban besar dengan manusia-manusia besar. Peradaban yang menyejarah dengan Budaya Tinggi. Peradaban Islam yang Berkemajuan.
Namun sebagai sebuah peradaban, tantangan terjadi pengeroposan lebih banyak dari dalam. Dan itu terjadi ketika para aktifis Muhammadiyah kehilangan jati diri dan sejarah dirinya, yang mengerdilkan diri dengan banyak menghabiskan energi ikut berebut hal-hal yang bersifat kebendaan dan kekuasaan, bukan malah bekerja keras, mentransformasikan diri terus menerus sebagai agen pembebas dalam arti seluas mungkin dan manusia multidimensi dan multisolusi, mengembangkan ilmu dengan basis epistimologi orisinil sebagai sebuah alternatif epistimologi (manhaj) yang mampu membebaskan manusia dari tantangan negatif peradaban lain yang saat ini bekembang, atau minimal sebagai bekal mengarungi kehidupan yang melampau batas-batas kematian biologis manusia. Karena sebagai sebuah peradaban, Muhammadiyah adalah sebuah teori tersendiri.
Zaim Ukhrowi, direktur utama Balai Pustaka, Rabu (27/08/2008) di UMY, mengingatkan kalau memandang Muhammadiyah jangan terjebak sekedar sebagai ormas belaka, harusnya Muhammadiyah dipandang sebagai sebuah spirit peradaban. Karena menurut Zaim, yang hebat dari KHA Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah adalah kemampuannya mengkomunikasikan Muhammadiyah sebagai spirit untuk membangun sebuah peradaban, bukan sekedar Ormas. Bahkan menurutnya, kalau dipandang sebagai Ormas, maka yang terjadi kemudian hanya pada hitung-hitungan pragmatis tentang jumlah pengikut, jumlah amal usaha bukan seberapa besar Muhammadiyah bisa berpengaruh positif pada sekelilingnya, memberikan pelayanan sebesar-besarnya untuk kemanusiaan. Cara memandang Muhammadiyah yang sekedar sebagai Ormas akan berpotensi menjadi pragmatis. “Ini rawan politisasi “ terangnya waktu itu.
Sementara itu, Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah, dalam sebuah orasi budaya yang diselenggarakan IMPULS di Kanisius, Selasa (29/07/2008) mengingatkan bahwa Muhammadiyah (bersama NU) harusnya menjadi perekat persatuan bangsa ini, bukan malah ikut-ikutan menjadi pemain dalam politik kekuasaan. “Karena Muhammadiyah dan NU seharusnya menjadi semacam Mahkamah Konstitusi Moralitas di negeri ini” terang Komaruddin.
Dari ungkapan Zaim yang mengaku bukan orang yang terlahir dari komunitas Muhammadiyah itu, bisa diraba ada gejala ke khawatiran dari orang-orang semacam Zaim bahwa Aktifis Muhammadiyah akhir akhir ini mulai menderita ‘miopic sindrom’ tentang dirinya, dimana hanya memandang dirinya sekedar sebagai ‘tubuh’ semata, bukan sebagai kesatuan utuh antara tubuh, akal dan jiwa. Sehingga ukuran keberhasilan gerakan terjebak sekedar pada keberhasilan materiil semata, bahkan kemudian bisa terjebak menjadi materialisme.
Sedangkan membaca ungkapan Komaruddin Hidayat, yang juga bukan aktifis Muhammadiyah ini, kita melihat bahwa ternyata ada harapan besar bagi Muhammadiyah yang sedemikian tinggi, dimana ada harapan bahwa kader Muhammadiyah tidak sekedar “hanya” menjadi Presiden, namun lebih dari itu, menjadi penjaga moral bangsa ini. “Namun sayang, sekarang sudah banyak yang ikut dalam permainan politik. Ikut berebut, ikut membuat bargaining politik praktis “ begitu Komaruddin menyatakan.
Selintas, dua kekhawatiran orang dari luar Muhammadiyah ini terdengar klasik. Sudah lama kajian-kajian tentang Muhammadiyah yang kemudian memberikan prasaran bahwa peran Muhammadiyah selama ini sudah pas, jangan bermain di ranah politik, namun bermain di wilayah kultural saja, karena disitulah core businnes Muhammadiyah. Sejalan juga dengan pernyataan Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam Darul Arqom Tingkat Nasional (1/09/2008) dimana seharusnya kader Muhammadiyah adalah kader dengan budaya tinggi, budaya manusia terpandang, bukan budaya rendahan yang kemudian berimplikasi dalam bentuk penyikapannya pada masalah-masalah kebendaan dan kekuasaan.
Haedar memberikan contoh ini pada kasus perilaku beberapa kader Muhammadiyah dalam penyikapannya dalam wilayah Politik, dimana menurut Haedar, perilaku politik yang mengarah pada bentuk politik praktis dengan budaya dan etika politik rendahan. Repotnya kecenderungan ini sering dibenarkan dengan berkembangnya mitos-mitos bahwa kalau tidak menjadi penguasa politik maka Muhammadiyah tidak akan mendapatkan jatah kue kekuasaan. “Selama ini Muhammadiyah terbukti bisa mandiri tanpa ketergantungan pada kekuasaan” terang Haedar.
Sementara itu, diluar sistem gerakan resmi, sosok seperti Andrea Hirata berhasil melakukan gerakan, yang sengaja atau tidak, harus diakui telah membawa masuk Muhammadiyah di ruang publik dengan Laskar Pelangi-nya melalui pintu sastra. Andrea Hirata dengan gaya dan caranya sendiri membawa simbol Muhammadiyah ke ruang publik sebagai sebuah spirit keunggulan, dan berhasil dari sekedar Ormas yang kering. Dia berhasil membawa Muhammadiyah masuk ke dalam kesadaran publik dengan cantik walaupun juga satir. Andrea bisa memainkan simbol Muhammadiyah bahkan memasuki wilayah permainan Kapital yang sebelumnya belum pernah berhasil dengan Novel serta Filmnya. Dengan diterjemahkannya Novel dan Film ini dalam berbagai bahasa dunia, sengaja atau tidak, Laskar Pelangi telah menjadi duta Muhammadiyah memasuki kesadaran universal warga dunia abad ini karena daya tusukkan yang tajam. Sehingga wacana-wacana formal Muhammadiyah seharusnya akan dengan mudah masuk ke dalam kesadaran warga dunia setelah Laskar Pelangi mendahuluinya dengan mengenalkan simbol Muhammadiyah dengan cantik.
Sayang, kadang ada letupan-letupan kecil yang kemudian mewakili mental budaya rendahan dari kader Muhammadiyah menanggapi fenomena Andrea Hirata. Letupan itu terjadi dalam bentuk seperti kritik dimana Andrea telah mengkomersilkan simbol-simbol Muhammadiyah, atau ada yang kemudian juga menderita ‘miopic sindrom’ dengan ungkapan “Harusnya Muhammadiyah mendapat bagian uang dari keuntungan Novel dan Film ini” . Pemikiran inilah yang terjadi pada mental-mental inlander, mental orang miskin yang membuat kecantikan ekspresi kultural Muhammadiyah itu tercoreng budaya rendahan yang memang “bukan maqom” -nya untuk bisa memahami arti modal sosial, modal intelektual atau modal moral sebagai elemen untuk membangun budaya tinggi khas Muhammadiyah. Ini adalah bagian dari kecenderungan curiga mencurigai dan berebut kekuasaan atau seringnya menghambat prestasi kawan seiring yang menjadi budaya manusia-manusia tertindas dan tidak akan siap hingga kapanpun menjadi manusia besar.
Sepertinya terlalu menyederhanakan masalah bila cinta-cita Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat Islam sebenar-benarnya dalam negeri Baldatun Thoyibatun Warobbun Ghofur dianggap hanya bisa diraih dengan menguasai kekuasaan politik dan kepemilikan benda-benda duniawi semata namun mengorbankan harta yang paling berharga dimiliki Muhammadiyah untuk bertahan hingga menjelang satu abad ini, yaitu Budaya Tinggi, Karya Besar, mental Manusia-Manusia Besar. Atau dalam istilah KH AR Fahruddin “Muhammadiyah yang Gagah, yang Nyah-Nyoh “ (Mudah memberi siapapun)
Hal ini juga sejalan dengan pernyataan Buya Syafii Maarif dalam Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah, ahad (7/09/2008), beliau menilai bahwa Muhammadiyah masih sangat jauh dari tujuan ‘mewujudkan masyarakat Islam sebenar-benarnya’ bila Muhammadiyah tidak juga menjadi gerakan ilmu selain gerakan Islami, gerakan dakwah dan gerakan tajdid. Bisa dibayangkan, bagaimana bentuk gerakan ilmu itu akan terjadi bila mental manusia merdeka yang berbudaya tinggi tidak menjadi mental kader Muhammadiyah. Apalagi ketika energi banyak dihabiskan untuk bermain politik rendahan, yang daya rusaknya setingkat dengan cara pandang curiga terhadap pemikiran baru anak-anak muda yang sering tergesa-gesa divonis liberal atau sekuler.
Simbol Muhammadiyah
Ketika sebuah simbol dimainkan di ruang publik disitulah eksistensi Muhammadiyah sebagai sebuah peradaban, walaupun memang sering menghadapi dua presepsi yang berbeda, seperti dua sisi mata uang, yaitu tanggapan positif dan negatif. Ini sudah sunnatullah. Ketika Kyai Fahruddin yang menjadi simbol Muhammadiyah bermain dengan gerakan ‘ala kiri’ yang kemudian dekat dengan gerakan buruh, mungkin banyak yang kemudian terjebak dalam analisis sempit bahwa Kyai Fahruddin membawa simbol Muhammadiyah menjadi Komunis. Ketika Muhammadiyah menerima sumbangan dari pemerintah Belanda untuk sekolah Muhammadiyah, bisa timbul presepsi bahwa Muhammadiyah sudah menjadi antek Belanda. Ketika Muhammadiyah mengadopsi sistem kepanduan menjadi Hisbul Wathan, bisa saja timbul presepsi Muhammadiyah telah mengalami westernisasi.
Hal ini juga terjadi ketika Mas Mansyur bergabung dengan PUTERA bersama Sukarno, Hatta dan Ki Hadjah Dewantara. Bisa timbul presepsi bahwa Muhammadiyah adalah komprador Jepang. Demikian juga ketika banyak tokoh Muhammadiyah adalah tokoh penggerak Masyumi, masa Kyai Badawi menganugerahkan Bintang Tauhid kepada Sukarno, ketika KH AR Fahruddin ‘bermain’ dengan orde baru dan Suhartonya, atau ketika Amien Rais memimpin Gerakan Reformasi. Namun sejarah telah membuktikan bahwa Muhammadiyah bisa melampaui semua itu dengan cantik bukan hanya karena ketrampilan berpolitik di level rendah. Namun lebih karena integritas yang menjadi modal utama Muhammadiyah. Integritas yang terbangun dari budaya besar, dari kepercayaan diri tinggi dari kecerdasan yang juga merupakan elemen pembentuk Budaya Tinggi, mental Manusia Besar.
Dengan memandang Muhammadiyah adalah sebuah entitas spirit, disamping content dan struktur, maka Muhammadiyah seakan melampaui definisi sebagai mahluk Allah yang bisa mati dalam hitung-hitungan biologis. Karena matinya Muhammadiyah adalah matinya sebuah peradaban besar. Dan sejarah juga membuktikan matinya sebuah peradaban besar banyak terjadi karena pengeroposan dari dalam yang dimulai dengan lahirnya generasi-generasi penerus dengan budaya rendahan, mental ciut dan menderita myopic sindrom yang berkepanjangan.
Entitas spirit ini sejalan dengan ungkapan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin dalam pembukaan Darul Arqam Tingkat Nasional (31/08/2008) bahwa kandungan Ayat Ali Imron 104 bukan saja perintah dakwah amar ma’ruf nahi munkar, namun didahului dengan konsep Al Khoir dimana bisa diartikan bahwa spirit Muhammadiyah adalah spirit keunggulan, spirit peradaban, spirit Islam Berkemajuan. Spirit inilah yang tergambar dalam epic SD Muhammadiyah Gantong dalam Laskar Pelangi. Spirit inilah yang menyatukan dan menggerakkan kader Muhammadiyah dari tingkat tertinggi di Pimpinan Pusat hingga ribuan bahkan jutaan kader Muhammadiyah di daerah yang bekerja keras dan ikhlas seperti Bu Muslimah dan Pak Harfan di Laskar Pelangi sebagai manusia-manusia besar yang meyakini Islam itu besar karena spiritnya untuk membangun peradaban.
“Jangan sentimen, jangan sakit hati kalau menerima celaan dan kritikan. Jangan sombong, jangan berbesar hati kalau menerima pujian. Jangan ujub kikir, riya. Dengan ikhlas murni hatinya, kalau sedang berkorban harta benda, pikiran dan tenaga. Harus ber-sungguh-sungguh hati dan tetap tegak pendirianmu”
“Mula-mula agama Islam itu cemerlang, kemudian makin suram. Tetapi sesungguhnya yang suram itu adalah manusianya, bukanlah agamanya. Agama adalah bukan barang yang kasar, yang harus dimasukkan kedalam telinga, akan tetapi agama Islam adalah agama fitrah. Artinya, ajaran yang mencocoki kesucian manusia. Sesungguhnya agama bukanlah amal lahir yang dapat dilihat, amal lahirnya itu hanyalah bekas dan daya dari ruh agama”
Pesan KH Ahmad Dahlan (1868-1923 M) dalam Kyai Dahlan Amal dan Perjuangannya oleh Junus Salam
JL KHA Dahlan, 103 Yogyakarta
8 September 2008
Posted by arifnur on September 9, 2008
http://aripnur.wordpress.com/2008/09/09/budaya-tinggi-manusia-besar-dan-islam-berkemajua/
Jogja Pagi Ini…!
Halah…. ,tadinya bingung pagi ini mo ngapain. SMS SMS ucapan ma’af lahir batin masuk terus di HP ku, tapi aku gak punya pulsa buat bales… (he..tepatnnya males beli pulsa….biarlah… gak ada yg urgent untuk di SMS….., kalo mo telpon urusan kantor mendingan make telpon kantor). Sebenernya merasa gak enak juga gak bales SMS SMS itu.. he. Tapi aku yakin kok.. mereka semua yg kirim SMS itu pasti mo udah ma’afkan kesalahanku juga….he.he..
Read the full post »
Posted by arifnur on Agustus 31, 2008
http://aripnur.wordpress.com/2008/08/31/jogja-pagi-ini/
Kenapa Harus Ada Ramadhan ?
“Emm… ternyata persiapan kita menyambut Ramadhan kalah sama TV-TV di Indonesia” . Hem.. aku berfikir, merasa dan pengen ketawa sekaligus malu. Halah.. masih punya malu..? ”Punya lah.. !” sautku sewot yang berarti dua kali malu. Read the full post »
Posted by arifnur on Agustus 30, 2008
http://aripnur.wordpress.com/2008/08/30/kenapa-harus-ada-ramadhan/
Profesional yang Aktifis…?
Mungkin banyak orang ketika bertemu kehidupan aktifis kemudian secara tergesa gesa mengikrarkan dirinya untuk menjadi aktifis seumur hidup. Banyak yang kemudian secara emosional berikrar untuk menghabiskan sisa umurnya menjadi aktifis. Lengkap dengan sumpah-sumpah khas aktifis, membela rakyat, bersama rakyat, menyuarakan suara rakyat, bla bla. Read the full post »
Posted by arifnur on Agustus 19, 2008
http://aripnur.wordpress.com/2008/08/19/profesional-yang-aktifis/
Ketika Preman Curhat
Kata Eno dulu (gak ngerti inget apa enggak dia), katanya orang bisa berubah karena menikah. Orang yang sering melakukan perbuatan perbuatan negatif, bahkan mabuk mabukan, dan perilaku gak produktif yang lain akan bisa berubah setelah menikah dan kemudian punya anak.
Sekilas, aku pernah khawatir juga dengan seorang sahabat perempuan yang akan menikah dengan seorang laki-laki yang dulunya banyak melakukan perilaku negatif. Waktu itu, walaupun tak terucap, aku khawatir apakah benar laki-laki yang bahkan tidak berjanji untuk berubah itu akan berubah pasca menikah ? Kabar terakhir sih hal itu benar benar terjadi. Read the full post »
Posted by arifnur on Juli 19, 2008
http://aripnur.wordpress.com/2008/07/19/ketika-preman-curhat/
Kenapa Dewi Persik Disalahkan ?
Dahulu aku berfikir bahwa lembaga sensor itu perlu. Namun beberapa waktu terakhir ini aku memandangnya menjadi sesuatu yang tidak perlu. Karena keberadaan lembaga sensor menurutku ada karena ‘penguasa’ menerapkan prespektif militeristik. Dimana sebuah ancaman itu harus dilarang, ditahan, bukan dilokalisasi atau kanalisasi.
Memang, dengan model sensor, larang, cekal kelihatannya mudah dan murah. Namun proses pelarangan, pencekalan atau pensensoran sesungguhnya sebuah proses yang jauh dari logika mendidik dan mendewasakan. Karena pensensoran, pencekalan dan pelarangan adalah proses dimana penguasa diasumsikan menjadi ‘manusia suci’ dan ‘kebal kesalahan’ sedangkan masyarakat dianggap ‘orang bodoh’ yang ‘mudah tergoda syetan’. He..padahal aku yakin, setiap manusia ketika ditanya.. tidak mungkin hal ini terjadi. Read the full post »
Posted by arifnur on April 16, 2008
http://aripnur.wordpress.com/2008/04/16/kenapa-dewi-persik-disalahkan/
Sabung Ayam Taruhan Perempuan
Tajen
Budaya, Adat, Ritual Sabung Ayam di Bali yang menjadi kontroversi. Setahuku, liputan OASIS Metro TV ini sudah beberapa kali diputar. Topiknya tentang langkah Kapolda Bali I Gede Mangku Pastika yang melarang Tajen, dengan alasan menjaga kemurnian dan kesucian agama dan Pura. Seorang ‘rakyat biasa’ (dilihat dari namanya… yug kutahu), berani mempertahankan keyakinannya tentang Hukum, Kemanusiaan, bahkan tafsir keagamaan dengan segaa konsekuensi harus berbenturan dengan pihak –pihak yang berseberangan. Dia, nyatakan perang dengan Tajen, walaupun demonstrasi, pemblokiran jalan, hingga hujatan tokoh adat, agama dan politisi dihadapinya. Bahkan di DPRD Tabanan, ada Pansus khusus tajen. Menurut ahli budaya Bali yang diwawancarai dalam dokumenter itu, pesan yang dibawakan Gede Mangku Pastika pesan nya kuat sekali, pesan Hukum, tafsir keagamaan hingga Jender (dalam iklan yang dibuatnya.. digambarkan seorang istri yang mengingatkan sang ayah yang suka sabung ayam.. dengan alasan keluarga dan ancaman KUHP. (Menurut narasi Dokumenter itu, ada juga kasus yang menjadi taruhan adalah Sang Istri… Read the full post »
Posted by arifnur on April 11, 2008
http://aripnur.wordpress.com/2008/04/11/sabung-ayam-taruhan-perempuan/
Udah Terlanjur Punya Blog WP
Pagi….!
Kemarin aku buka Blog disini karena blog di MP di blokir (kalo pake speedy). Ternyata mulai tadi malam, MP udah beres lagi, dan bisa diakases via Speedy (bareng You tube, dsb). Namun, bukan berarti Blog ini harus di delete. Yah.. paling tidak untuk membuka ‘ruang lain’ yang selama ini kubuka di MP, FS, Blogspot.
Oke… pagi ini, aku harus berfikir tentang bagaimana membangun management Website www.muhammadiyah.or.id meningkat. Memang benar kata seorang ‘kawan’ (hatiku tenyata masih disana), kalau aku bisa mengelola ‘sesuatu’ ketika diriku bisa terkelola dengan baik. pendek kata, management bisa teratur bila aku bis amemanagement diriku sendiri. Serius, pagi ini aku masih teringat bagaimana dia berargumen bahwa revolusi itu baik, namun akan terancam gagal bila aku hanya menuruti mood ku saja. Read the full post »
Posted by arifnur on April 10, 2008
http://aripnur.wordpress.com/2008/04/10/udah-terlanjur-punya-blog-wp/
